DENPASAR, INDONESIA – Terletak kurang dari sehari lamanya penerbangan dari berbagai kota besar di Asia dan Oceania, Bali merupakan sebuah keajaiban dengan daya tariknya tersendiri. Citranya sebagai Pulau Dewata telah melekat erat sebagai destinasi wisata yang memenuhi fantasi tropis dan mistik para pengunjungnya. Dipenuhi dengan seluk-beluk kehidupan yang beragam dari dasar laut hingga puncak pegunungannya, keindahan ekosistem Bali yang menyeluruh pun tercermin dalam kehidupan para penduduknya – salah satunya sebagai keberlangsungan mandiri dari warisan Kerajaan Hindu Majapahit di Nusantara.

Selaras dengan imaji tersebut, perkembangan seni dan desain menjadi salah satu elemen penting dalam pembentukan identitas “Bali” sebagai “Surga Terakhir” yang dibangun oleh Koloni Hindia Belanda sejak abad ke-20. Seperti yang marak ditemukan di berbagai “art shop” setempat, serta potretnya di media populer seperti dalam film Eat, Pray, Love (2010), representasi utama seni dan desain Bali masih kerap timpang terhadap eksotika yang bersifat tradisional dan utopis, untuk meneguhkan Bali sebagai lahan yang spiritual, mewah, dan patut dikunjungi. Namun, ada kalanya representasi tersebut seakan terlepas dari berbagai kontra wacana serta transformasi estetika yang kian berkembang bersamaan dengan relevansinya terhadap iklim sosial dari dalam maupun luar Bali di masa kini.
Kesadaran akan hal ini perlahan-lahan membuka momentum dan kesempatan baru bagi arah berkegiatan seni dan desain di Bali, terutama dengan semangat perkembangan industri kreatif di skala nasional. Bertambahnya wawasan melalui pendidikan dan pertukaran pegiat yang semakin terhubung dengan terbukanya moda komunikasi dan transportasi, Bali memiliki potensi yang signifikan sebagai karakter tersendiri, untuk bersanding dengan cagar-cagar kreatif lainnya di Indonesia, di antaranya Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Hal ini terlihat melalui keterlibatan nama-nama yang familiar asal Bali di lintas kesenian Indonesia, termasuk di antaranya artspace, komunitas, maupun ruang penghubung, seperti Rumah Sanur, Uma Seminyak, Cata Odata, Taman Baca Kesiman, Minikino, Kulidan Kitchen, Studio Eksotika, Teater Kalangan, Ketemu Project, dan lain lain. Selain itu, para perupa yang berakar tradisional pun mulai mengekspresikan dirinya dalam isu-isu kontemporer melalui corak visual yang mereka kuasai. Begitu pula dengan pemuda-pemudi banjar yang juga melibatkan aktivitas seni dalam upaya kampanye Tolak Reklamasi Teluk Benoa sebagai bentuk kepedulian terhadap keseimbangan alam.

Gejolak aktivitas-aktivitas di atas menunjukkan bahwa ekspresi kreatif tidak bisa lepas dari kehidupan sosial yang merupakan bagian dari keseluruhan ekosistem di Bali. Pada kenyataannya, ungkapan melalui seni dan desain di Bali merupakan bagian dari Ngayah, yaitu bahwa jiwa untuk berkesenian lahir dari tradisi untuk mengabdi, atau berbakti, kepada leluhur. Kesungguhan inilah yang membuat seni dan desain tradisional Bali menjadi hidup, dengan semangatnya yang berkelanjutan hingga saat ini. Menyadari hal tersebut dan tanpa mengurangi apresiasi dan hormat terhadap kesenian serta kriya tradisional yang indah dan sarat dengan nilai-nilai filosofis yang berharga, CushCush Gallery (CCG) hendak memperkaya perbincangan terkait seni, desain, serta isu-isu kontemporer di Bali melalui kota Denpasar sebagai titik temu pusat pemerintahan, ekonomi, dan transportasi yang memiliki potensi serta ciri visualnya tersendiri. Setelah sukses pada acara perdananya tahun 2017 silam dengan mengangkat tema “Bahasa Pasar”, tahun ini CCG kembali menghadirkan DenPasar2018 dengan tema JINGGA. Terinspirasi dari transisi waktu dari terang menuju gelap, JINGGA merupakan sebuah metafora untuk merepresentasikan dinamika yang terbingkai oleh Denpasar sebagai sebuah ibukota dari semesta kecil ini, dari waktu ke waktu.

Rumah Sanur, Uma Seminyak, Cata Odata, Taman Baca Kesiman, Minikino, Kulidan Kitchen, Studio Eksotika, Teater Kalangan, Ketemu Project, dan lain lain. Selain itu, para perupa yang berakar tradisional pun mulai mengekspresikan dirinya dalam isu-isu kontemporer melalui corak visual yang mereka kuasai. Begitu pula dengan pemuda-pemudi banjar yang juga melibatkan aktivitas seni dalam upaya kampanye Tolak Reklamasi Teluk Benoa sebagai bentuk kepedulian terhadap keseimbangan alam.

Gejolak aktivitas-aktivitas di atas menunjukkan bahwa ekspresi kreatif tidak bisa lepas dari kehidupan sosial yang merupakan bagian dari keseluruhan ekosistem di Bali. Pada kenyataannya, ungkapan melalui seni dan desain di Bali merupakan bagian dari Ngayah, yaitu bahwa jiwa untuk berkesenian lahir dari tradisi untuk mengabdi, atau berbakti, kepada leluhur. Kesungguhan inilah yang membuat seni dan desain tradisional Bali menjadi hidup, dengan semangatnya yang berkelanjutan hingga saat ini. Menyadari hal tersebut dan tanpa mengurangi apresiasi dan hormat terhadap kesenian serta kriya tradisional yang indah dan sarat dengan nilai-nilai filosofis yang berharga, CushCush Gallery (CCG) hendak memperkaya perbincangan terkait seni, desain, serta isu-isu kontemporer di Bali melalui kota Denpasar sebagai titik temu pusat pemerintahan, ekonomi, dan transportasi yang memiliki potensi serta ciri visualnya tersendiri. Setelah sukses pada acara perdananya tahun 2017 silam dengan mengangkat tema “Bahasa Pasar”, tahun ini CCG kembali menghadirkan DenPasar2018 dengan tema JINGGA. Terinspirasi dari transisi waktu dari terang menuju gelap, JINGGA merupakan sebuah metafora untuk merepresentasikan dinamika yang terbingkai oleh Denpasar sebagai sebuah ibukota dari semesta kecil ini, dari waktu ke waktu.

DenPasar2018 akan dimulai dengan sebuah pameran kolektif di bulan Oktober 2018, di mana CCG merangkul para pegiat kreatif, baik yang berasal dari Bali maupun yang datang kemudian, untuk mengekspresikan interpretasi mereka dengan kota Denpasar dalam bentuk seni visual dan performatif. Undangan ini terbuka bagi siapa saja hingga tanggal 2 Juli, termasuk di antaranya perupa, desainer, arsitek, penampil, dan sebagainya, asalkan memenuhi persyaratan. DenPasar 2018 juga mengundang para pegiat kreatif atau komunitas di Denpasar untuk terlibat dalam kompilasi aktivitas seni dan kreatif paralel ke dalam DenPasar ART + DESIGN MAP 2018-2019, yang akan dicetak dalam bentuk peta dan disosialisasikan sebagai brosur ke titik-titik pariwisata serta lokasi yang memiliki program seni dan kreatif di Bali. Program-program lainnya berupa diskusi dan workshop pun akan dirangkai untuk mendampingi pameran kolektif yang berlangsung. Untuk informasi mengenai menjadi program / venue partner untuk DenPasar2018, maupun menjadi bagian dari DenPasar ART + DESIGN MAP 2018-2019, silahkan pelajari lebih lanjut ketentuannya di http://cushcushgallery.com/ccg/denpasar2018/.

=====================================

CushCush Gallery
Jalan Teuku Umar, Gang Rajawali no. 1A
Narahubung: (+62361) 242 034 / +6281 805542430 (Sagung)


Related Blogs

    Share