SUKU-ANALOG01

Ditemui di sela-sela kesibukan mengadakan pameran bertajuk Eunioa – An Analog Photography Exhibition, Suku Analog tidak menunjukkan sedikitpun raut muka lelah. Padahal “tidak tidur” nyaris menjadi nama tengah mereka dalam mempersiapkan pameran kali ini. Melihat karya-karya mereka yang unik dan one of a kind, langsung aja MAVE ajak ngobrol sambil berharap bakal kecipratan skill fotografi mereka.  teks Dian photo Courtesy Suku Analog

Wah keren-keren lho foto-foto yang dipamerin hari ini. Salute deh buat kalian!

Hehe makasih MAVE. Ini semua berkat kerja keras team kami dari Suku Analog dan juga dukungan dari orang-orang terdekat. Bisa dibilang ini adalah goal yang ingin dicapai dari terbentuknya Suku Analog sendiri. Kita pengen ngadain pameran yang pure hasil kamera analog semua.

Boleh diceritain dong awal terbentuknya Suku Analog ini?
Jadi awalnya komunitas kita bernama Kamera Analog Bali Nusra yang kebanyakan ketemu lewat sosial media. Akhirnya kita yang di Bali sering ngumpul, jalan bareng, dan hunting bareng. Pada mulanya kamera kita bervariasi, ada yg analog ada juga yang digital. Tapi semakin kesini kita merasa passion kita di kamera analog. Maka terbentuklah Suku Analog ini.

Apa sih yang spesial dari kamera analog ketimbang kamera digital?
Lebih menantang mungkin ya. Karena menggunakan kamera analog kita dituntut untuk memperhitungkan segala sesuatu sebelum memotret karena filmnya sendiri lumayan mahal dan susah nyarinya. Ga jarang kita harus datengin film langsung dari Jepang atau Amerika untuk dapat hasil sesuai yang kita inginkan. Tapi overall yang paling asik adalah prosesnya. Mulai dari loading film, memotret, hingga akhirnya mencuci/developing dan cetak fotonya sendiri. Ga jarang kita bereksperimen pakai bahan-bahan seperti kopi ataupun paracetamol sebagai pengganti developer kalo udah habis.

Konsep pameran kali ini apa?
Kita mengangkat tema Eunoia, diambil dari Bahasa Yunani yang artinya Beautiful Thinking. Terlepas dari hasil foto yang relatif untuk bagus atau jeleknya, kata beautiful ini lebih menekankan pada proses indah yang udah kita jalanin sampai akhirnya bikin pameran ini.

Selama persiapan pameran ini, kendala apa aja yang dihadapi?
Wah banyak banget kendalanya. Mulai dari sulitnya pengadaan bahan untuk cuci dan cetak fotonya, seperti paper dan enlarger, dan kendala tempat juga. Untungnya dari pihak Lingkara datang jadi penyelamat kita. Kendala lainnya lebih ke mental ya. Banyak teman-teman yang sempat depresi karena hasil fotonya banyak yang gagal. Ada yang ga sengaja minum cairan developer atau salah campur karena stress dikejar deadline.

Untuk ke depannya ada rencana apa lagi nih dari Suku Analog?
Kita pasti bakal lebih sering ngumpul-ngumpul dan brainstorming buat ngadain pameran lagi dengan tema dan konsep yang berbeda. Doakan semoga semuanya lancar yaaaa :)

Amiiiinnnnn. Bagi-bagi tips dong buat teman-teman MAVE yang mungkin tertarik mau “main” analog juga :)
Saran kita sih siapin mental dan duit ya. Hehe. Soalnya kita bakal boros buat beli film dan developer yang kadang susah dicari di Indonesia. Kita juga bakal ngalamin banyak kegagalan di awal terjun ke dunia analog ini. Jadi memang harus super sabar dan semangat untuk terus belajar. Selain itu masing-masing kamera juga punya karakter yang beda-beda dan menuntut perlakuan yang beda juga.

Kalau mau ngobrol-ngorbrol lebih lanjut dengan anak-anak Suku Analog kita bisa hubungi lewat mana nih?
Langsung gabung aja ke Grup Facebook kita di Suku Analog atau search akun Flickr kita. Sampai ketemu disana 😀

SUKU-ANALOG04 SUKU-ANALOG12 SUKU-ANALOG03 SUKU-ANALOG02

 

Related Blogs

    Share