BaCAA#4-Invitationt

Sempat tertunda setahun, akhirnya Bandung Contemporary Art Award kembali terselenggara untuk keempat kalinya. Penundaan ini berkaitan dengan rencana yang semula hendak menyerahkan penyelenggaraan Bacaa kepada Pemerintah kota Bandung. Sayangnya rencana tersebut kurang mendapatkan sambutan sehingga perhelatan ini kembali dikelola oleh Art Sociates

Ada beberapa hal yang patut dicatat berkaitan dengan Bacaa #04 ini. Yang pertama adalah adanya pertambahan partisipan—meskipun tak terlampau signifikan—dibandingkan dengan penyelenggaraan Bacaa #03. Pada kompetisi terakhir panitia mencatat sebanyak 285 submisi yang turut serta berkompetisi, dan di Bacaa #04 kali ini panitia menerima sebanyak lebih dari 350 submisi. Pertambahan kuantitas partisipan yang tak seberapa ini ternyata dibarengi dengan peningkatan kualitas karya-karya  partisipan. Kebanyakan peserta berasal dari kalangan seniman muda yang cukup berpengalaman, sehingga penjurian Bacaa #04 kali ini lebih mudah, dan penyaringan 30 semi finalis pun memenuhi standar kualitas yang cenderung lebih baik dibandingkan Bacaa #03 sebelumnya. 

Seperti  BaCAA sebelumnya, BaCAA #04 ini sebagai kompetisi seni rupa kontemporer tidak menetapkan tema maupun batasan medium/material. Hal ini memang menjadi konsep dasar BaCAA. Sesuai dengan konsep dasar ini, peserta BaCAA diberi kebebasan untuk menelusuri dan mengeksplorasi segala kemungkinan gagasan dan perupaan dalam berkarya.  Karena itu beragam topik, medium, proses dan prinsip estetik mewarnai rangkaian karya yang masuk ke meja panitia. Namun, tentunya tetap ada pembatasan-pembatasan primer, seperti dimensi dan jumlah karya.  Melihat komposisi 30 finalis terpilih, tampak bahwa karya-karya instalasi dan new media cukup menonjol dibandingkan karya-karya dua dimensi, terutama lukisan. 

Ketiadaan tema dan batasan medium menyebabkan setiap karya dinilai dengan berbagai variabel yang berbeda dan diletakkan dalam konteksnya masing-masing. Dengan kata lain  penilaian setiap karya dikembalikan pada variabel-variabel yang berkait dengan gagasan, perupaannya, dan kemungkinan resepsinya. Hal ini melahirkan kompleksitas dan dinamika penjurian dalam menetapkan 15 finalis dan khususnya 3 pemenang. Kehadiran dua juri asing, Michael Janssen dan Edouard Mornaud, selain tiga juri lokal, memberikan penilaian dan perdebatan yang bernas  dalam proses penjurian. Pemahaman juri lokal berkenaan dengan medan seni rupa kontemporer Indonesia dan latar belakang  para seniman semi finalis tentu membantu para juri  asing  untuk lebih  memahami konteks karya-karya yang disertakan. Sementara kedua juri asing tentu saja lebih mengandalkan penilaiannya pada aspek visual dan deskripsi konsep yang disertakan oleh seniman. Namun pengenalan para juri asing terhadap praktek dan keragaman konteks seni rupa internasional merupakan masukan yang membuat penilaian lebih seimbang.

Catatan lain pada Bacaa #04 adalah sedikitnya karya seni lukis yang masuk. Agaknya dalam kompetisi seni rupa kontemporer karya-karya seni lukis cukup sulit untuk dapat bersaing. Hal ini  berkait dengan persoalan konteks yang telah diutarakan. Kesertaan lukisan dalam kompetisi seni rupa kontemporer akan diniliai berdasarkan konteks sebagaimana telah dijelaskan diatas, sedangkan seni lukis biasanya dinilai dengan parameter perkembangan seni lukis itu sendiri.  Sehingga, tanpa kekuatan yang cukup signifikan maka seni lukis sulit untuk ikut bertarung. 


Related Blogs

    Share