Poster-Publikasi-mediaLiberate Day merupakan hajatan yang lahir atas kegamangan akan atmosfer pertunjukan musik yang lebih intim di kota Solo. Bermula dari gagasan liar kuintet rock Soloensis, Liberate Day edisi perdana berhasil dihelat pada 18 Mei 2017, bertempat di Double Decker, Solo Baru dengan tajuk “Soloensis First Gig”. Kini, berselang tujuh bulan setelah edisi perdananya, Liberate Day vol. 2 bakal digelar di Muara Market, tepatnya pada 14 Desember 2017.

Dalam pelaksanaannya, spirit yang diusung Liberate Day vol.2 masih tetap sama dan sederhana, persis seperti manusia yang menyeimbangkan raga dengan makan-minum saat lapar dan dahaga tiba. Ketika kegelisahan akan kualitas pertunjukan musik yang bernas muncul, Liberate Day vol.2 menyeruak hadir sebagai sebuah alternatif jawaban. Berangkat dari niat untuk menyalakan kembali riuh gigs kota Bengawan yang sempat senyap, maka  mengajak semua elemen di Kota Solo untuk ikut terlibat; tanpa memandang latar belakang yang menyertai, semua diundang tanpa terkecuali.

Mereka dipersilakan untuk ikut berjejaring, berdendang serta bernyanyi,  meski terpaut rentang umur, lintas seni, atau atau lingkar profesi beda lini. Tak menutup kemungkinan, industri kreatif, wakil rakyat, perusahaan skala kecil hingga besar juga turut diundang, sebagai bentuk kesediaan untuk turut bersinergi dan berkontribusi membingkai kembali pertunjukan apik dengan atmosfer intim yang belakangan alpa dari skena musik kota Solo.

Menampilkan Soloensis sebagai ‘tuan rumah’ sekaligus inisiator hajatan perdana, unit rock ‘n roll kota Bengawan itu kemudian berjejaring dengan kuintet psikedelik-grunge kebanggaan Pulau Dewata, Navicula, untuk turut terlibat memeriahkan Liberate Day vol 2. Tidak lupa, beberapa grup lokal yang belakangan mencuri perhatian juga diajak untuk turut serta; mulai dari unit punk-rock klasik setempat Malu2x, trio distorsi Barmy Blokes, dan duo manipulator visual yang berdentum lewat bendera Astromorphs.

Tidak ingin mencanangkan target yang kelewat muluk, mengembalikan titah gigs yang baik adalah poin nomor wahid yang ingin dipenuhi oleh Liberate Day. Sebab wacana untuk menyucikan trinitas panggung pertunjukan—penampil, penikmat, dan penggagas—sudah menjadi barang yang cukup langka di tengah persaingan ragam pertunjukan musik saat ini.

Kepuasan masing-masing elemen diukur dengan besaran nominal, sehingga tidak menyisakan ruang untuk formula estetik tentang cipta, rasa, dan karsa, yang pada akhirnya jug berbicara soal manfaat untuk apa yang ada di sekitarnya. Pun dengan penggunaan konsep donasi yang digunakan sebagai pengganti sistem tiket pada Liberate Day vol. 2.

Pemilihan skema donasi juga bukan tanpa sebab, karena pada hajatan sebelumnya, Liberate Day menggratiskan tiket masuk kepada para pengunjung. Di edisi kedua, skema donasi dipilih guna melihat keseriusan basis massa Soloensis secara khusus, serta penikmat gigs secara umum. Tujuannya, donasi yang berbasis sistem registrasi ini akan menjadi basis data Liberate Day, sehingga memudahkan pemetaan pada penyelenggaraan selanjutnya.

Jika kebanyakan donasi ditujukan kepada pihak yang membutuhkan, maka donasi yang didapat dari Liberate Day vol.2 ini bakal digunakan untuk kebutuhan produksi, sekaligus sebagai pijakan awal untuk edisi Liberate Day di kemudian hari. Tidak menutup kemungkinan, apabila arus donasi kali ini tergolong cukup masif maka Liberate Day selanjutnya bakal menggratiskan tiket untuk siapapun yang berkenan hadir di acara ini.

Secara berkala, Liberate Day vol. 2 rutin menyiarkan kabar terbaru di situs resminya, sekaligus menjadi portal registrasi bagi mereka yang akan melakukan proses donasi. Info lebih lanjut, bisa dikuntit di liberateday.com

Rubuhkan sekat, mari terlibat.

Related Blogs

    Share