BALADHUGAL_1

Tentang Baladhugal

Bagi Fajar Dwinanto, Ajie Wisnu, Dimas Nugroho dan Febrian Wisnu, musik adalah salah satu sarana rekreasi dari penatnya rutinitas sehari – hari. Terdengar klise mungkin, tapi memang itulah salah satu yang melatar belakangi terbentuknya entitas bernama Baladhugal di bulan Oktober 2016. “Selain sebagai sarana bersenang – senang, menulis lirik dan bernyanyi di Baladhugal itu menjadi semacam terapi agar tetap waras di dunia yang semakin tidak baik – baik saja ini. Daripada semuanya ditumpahkan di media sosial dan jadi ambil bagian dalam kegilaan, mending band – band an”, ungkap Fajar yang kemudian diamini oleh yang lainnya.

Masih bermain dan berkutat di seputar musik keras hasil peranakan hardcore, metal dan punk, Baladhugal menyajikan komposisi gitar down tuned, bass distortif yang tetap terjaga tune dan low-nya, gebukan drum yang bertenaga serta vokal yang kasar tapi tetap terdengar jelas. Ditambah dengan lirik – lirik multidimensi yang enggan terjebak dalam stereotype tema persaudaraan maupun sosial politik. “Ada sedikit pengaruh dari band – band metal akhir 80an dan awal 90an macam Entombed, Obituary hingga Terrorizer. Dan tentunya The Exploited era Beat The Bastard dan Fuck The System” kata Ajie sedikit menjelaskan beberapa band yang mempengaruhi arah musikal Baladhugal. Pengaruh band – band metal, terutama death metal juga bisa dilihat dari logo band, desain gambar merchandise hingga kebiasaan Fajar melumurkan darah (palsu) ke wajah dan tubuh di tiap kali manggung. “Banyak yang mengira kalau kebiasaan melumurkan darah itu terinspirasi GG Allin. Padahal sebenarnya ide itu datang beberapa tahun lalu, ketika saya menyaksikan video Bloodbath: Wacken Carnage. Mikael Akerfeldt dan kawan – kawan terlihat keren dan pastinya kejam dengan badan berlumuran darah. Dari situlah sebenarnya datangnya ide”, Fajar menambahkan

Tentang Di Ujung Tanduk

“Di Ujung Tanduk”  merupakan salah satu dari lima buah lagu hasil rekaman sesi pertama di Winsome Studio, Solo Baru. Dan lagu ini akhirnya dipilih menjadi lagu perkenalan Fajar, Ajie, Dimas dan Febri dalam bentuk entitas bernama Baladhugal karena selain catchy (setidaknya menurut kami) juga menggambarkan kurang lebih seperti apa identitas musik yang dipilih.

“Pada saat proses penulisan lagu dan aransemen lagu, frasa “Di Ujung Tanduk” muncul duluan di kepala saya. Entah nanti tema dan liriknya mau bagaimana, yang penting harus ada frasa tersebut dan judulnya pun harus itu” jelas Fajar mengenai awal mula “Di Ujung Tanduk”. “ Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya memutuskan bahwa ini akan jadi semacam lagu pesta kami. Bila Beastie Boys punya You Gotta Fight for You’re Right (To Party) dan Anthrax punya Caught In A Mosh, maka Baladhugal punya “Di Ujung Tanduk”. Sangat tidak original? Memang!. Kami ingin bersenang – senang di band ini. Bukan ingin jadi pahlawan penyelamat skena atau apa. Jadi masalah originalitas itu tidak pernah kami ambil pusing. Tidak ada hal yang baru di bawah matahari saat ini.” Kisah Fajar tentang “Di Ujung Tanduk”

Proses rekaman. mixing serta mastering “Di Ujung Tanduk” dilakukan di Winsome Studio, Solo Baru dengan bantuan Wildhan Andhi sebagai Engineer  dan co-producer. Sementara artwork nya dikerjakan oleh Itokvlt.

Saat ini “Di Ujung Tanduk” sudah bisa dinikmati di halaman soundcloud dan bandcamp.

 Foto-Panggung_01-oleh-Jaddah

BALADHUGAL adalah:

Novianto Fajar Dwinanto (Vokal)

Ajie Wisnu Wardhana (Gitar)

Dimas Nugroho (Drum)

Febrian Wisnu (Bass)

 

===================================================================================

More info:

soundcloud.com/baladhugal

baladhugal.bandcamp.com

instagram.com/baladhugal

facebook.com/baladhugal

Related Blogs

    Share