Auretté and The Polska Seeking Carnival

Grup band beraliran folk pop asal Yogyakarta, Auretté and The Polska Seeking Carnival atau AATPSC merilis album kedua bertajuk “Bloom“. Album ini sudah dapat didengarkan di Spotify, iTunes, Apple Music, YouTube, Deezer, Google Play Music, Tidal, Napster, Amazon Music, dan layanan digital stores lainnya. Sementara untuk versi fisik dari album “Bloom saat ini sedang dalam tahap produksi dan akan menyusul dirilis secepatnya.

Album bertajuk “Bloom, secara harfiah dapat diartikan “mekar”, sebagai representasi sebuah perubahan atau transformasi yang terjadi baik dari segi musikal maupun personel AATPSC. Secara personal, sejak terbentuk pada 2012 silam hingga sekarang, setiap personel band telah mengalami banyak perubahan dalam hidup mereka. Sementara dari segi musik, “Bloom mengalami perubahan yang drastis dan sangat berbeda dengan album pertama AATPSC bertajuk “Self Titled yang dirilis pada 2013 silam.

Perubahan musikalitas “Bloomdapat dilihat dari segi musik dan lirik. Jika dalam album pertama, AATPSC banyak menggunakan instrumen akustik dan lirik lagu berbahasa Inggris, pada album Bloom yang berisi 12 lagu ini, AATPSC banyak menambahkan instrumen elektronik dan sampling elektronik, serta menggunakan lirik berbahasa Indonesia dalam beberapa lagu.

Selain mengisahkan proses transformasi personal AATPSC, 12 lagu dalam “Bloom berkisah tentang kehidupan sekitar. Single pertama bertajuk “Rinai Hujan” berkisah tentang seseorang yang bersedih dan merasa sendu di kala berdiri di tengah hujan, ia mengharapkan seseorang menemuinya dan mengajaknya berteduh. Sementara dalam “Lullaby (Wondering Why)AATPSC menjabarkan hubungan antara manusia dan Tuhan. “On The Shore” secara sureal menggambarkan sepasang kekasih yang tengah berjalan di pantai. AATPSC juga menyoroti persoalan sosial dalam lagu “Melerai Lara”, lagu ini menyoroti kaum transgender yang seringnya masih mendapat diskriminasi di tengah masyarakat. Lagu “Tamasya” menjabarkan para manusia yang suka bertamasya, namun terkadang baik sengaja atau tidak sengaja merusak alam sekitar. AATPSC juga menyoroti masalah kesehatan mental/jiwa dalam lagu “The Bell Jar.”

Di album ini, AATPSC juga berkolaborasi dengan beberapa musisi lain. Misalnya dalam lagu “The Bell Jar”, Gardika Gigih bermain piano dan membuat reverse sampling, dan YK Brass Ensemble mengisi departemen brass section atau alat tiup besi.

================================================================================================================

For more information:

Instagram: @aatpsc

 

Related Blogs

    Share