ArtBali

Setelah berlangsung selama tiga bulan lamanya ArtBali ditutup dengan talkshow menarik dari kurator Wilko Austerman asal jerman hingga kolektif seni Jakarta, Ruangrupa. Perbincangan santai itu dimulai pada pukul 17.30 sore hari di depan gedung AB-BC, Nusa Dua, Bali dan dibagi atas dua sesi talkshsow. Acara ArtBali mengusung hampir 30 seniman baik lokal bali, nasional hingga internasional. Acara yang merupakan perpanjangan cita-cita Heri Pemad dengan timnya dari Heri Pemad Management. Setelah sebelumnya sukses menggelar Artjog 2019 di jogja, ia merasa bali menjadi tempat potensial untuk kembali menghelat pameran seni. Dikunjungi oleh lebih dari 1.000 pengunjung, ArtBali berhasil memberikan pengalaman seni kontemprorer yang menjanjikan bagi para pengunjung. Dengan semangat yang sama dari Artjog, ArtBali berusaha mempersembahkan pameran yang tidak main-main. Di tangan, Heri Pemad Management sebuah karya seni dapat dilihat dan dinikmati dengan layak. Tentunya hal itu dicapai lewat proses kuratorial dan manajemen pameran yang membutuhkan waktu lama. Untuk memenuhi fungsi edukasi seni, maka talkshow dihelat.

Artbali 3

Sesi pertama dibuka oleh moderator Marlowe Bandeman dengan mendatangkan Wilko Austerman yang mempresentasikan hasil kuratorialnya di berbagai kota di jerman. Dimulai pada tahun 2014 saat ia berlaku sebagai kurator pameran pahat patung di kotanya, Dusseldorf. Pada tahun 2018 ia juga menjadi kurator pada Cologne Biennial dan festival seni digital di kota yang sama. Kehadirannya di ArtBali mengundang banyak antusiasme dari para pengunjung untuk bertanya mulai dari perjalanannya menjadi kurator hingga proses kuratorial itu sendiri. Wilko juga sedang meneliti mengenai pengaruh teknologi digital pada teknik membuat seni secara manual. Perkembangan teknologi juga menjadi alasan mengapa banyak seniman yang justru meninggalkan teknik-teknik analog ‘I find many artists are making artwork just for Instagram, but its not wrong to use that platform to sell arts’ tuturnya sedikit prihatin. Wilko sendiri mempunyai prinsip bahwa karya seni harusnya dapat dinikmati secara langsung dengan datang ke lokasi pameran. Hal itu yang membuatnya ingin membuat ruang pameran di kotanya agar siapapun yang ingin melihat pameran seni tidak perlu jauh-jauh lagi berkelana.

Sesi kedua dilanjutkan dengan kolektif serta organisasi non-profit Ruangrupa asal Jakarta. Diwakilkan oleh Ade Darmawan dan Ajeng Nurul Aini. Ruangrupa terbentuk pada tahun 2000 dan fokus pada perkembangan seni dan mengaitkannya dengan konteks kultural serta urban di dalam kota. Sebagai organisasi mereka sudah terlibat dalam berbagai kegiatan seni internasional seperti Gwangju Biennale (2002 & 2018), Istanbul Biennale (2005), Asia Pacific Triennial of Contemporary Arts (2012) dan masih banyak lagi. Dalam acara penutupan Art Bali ini mereka merepresentasikan tentang projek ruang rupa dan perkembangannya tiap tahun. Mereka secara aktif menghelat berbagai jenis pameran, konser musik, diskusi, hingga workshop dan bekerjasama dengan berbagai pihak serta tokoh lintas disiplin. Untuk menjalankan progam-progam itu mereka masih mengandalkan pendanaan secara kolektif. Dalam talkshow kali ini, Ruangrupa memberikan kerpihatinan mereka soal kesenian kontemporer dan tantangannya kedepan. Keprihatinan mereka berpusat pada pameran seni kontemporer yang justru menjaga jarak dengan masyarakat luas serta bagaimana pameran yang memberikan tema justru mengurung seniman itu pada bentuk ilustrasi dua dimensi belaka.

HERI PEMAD: ARTBALI SEBAGAI BUAH AMBISI

Artbali-2

Nama Heri Pemad tentunya tidak asing bagi para penikmat seni. Ia adalah sosok yang berhasil menepis anggapan bahwa pameran seni akan selalu sepi. Pada akhir tahun 2019 setelah suskses menggelar pameran Artjog ‘Common Space’ dengan timnya dari Heri Pemad Management ia melakukan perpanjangan dari pameran tersebut ke ArtBali. Menurutnya bali mempunyai potensi yang bagus untuk menjadi tempat pameran. Menggelar pameran layaknya Artjog tentu tidak semudah itu dilakukan di Bali. Menjalin kerjasama dengan setiap orang adalah salah satu cara paling ampuh untuk dapat membuat pameran yang baik. ‘The future is collaboration” tuturnya bersemangat saat ditanya soal pesannya terhadap seniman muda. Walau berhasil menggelar pameran dengan skala masif dan sukses. Heri Pemad tidak merasa bahwa sebuah pameran harus dihelat dengan skala besar-besar dan mempunyai kuratorial yang mumpuni. ‘Semua itu pilihan, mau besar ataupun kecil ya terserah senimannya’ ujarnya. Artjog sendiri berhasil menembus angka puluhan ribu pengunjung di tahun 2019. Naiknya pameran seni juga membawa kita pada permasalahan apresiasi. Kasus-kasus pengunjung yang datang hanya untuk melakukan selfie misal, justru menyebabkan pendapat yang bersebrangan. Menurut Heri Pemad sendiri ‘Bentuk selfie itu juga apresisasi, kenapa kita perlu ngatur bagaimana cara orang lain mengapresiasi. Kalau memang senimannya merasa hal itu berarti tidak menghargai ya tinggal sistemnya bagaimana, bilang saja tidak boleh selfie dengan karya ini’ tuturnya. Besar harapan Heri Pemad untuk kedepannya membuat banyak pameran serta mengambil banyak seniman lokal dan internasional yang siap dengan proses kuratorial serius.



Related Blogs

    Share