Masyarakat yang beragam membutuhkan film yang beragam pula. Tentunya dalam kerangka ini film tidak dilihat sebagai hasil kerja kreatif dari berbagai lini produksi semata, tapi juga sebagai medium pertukaran gagasan, nilai, dan pengalaman. Kondisi yang ada sekarang adalah akses masyarakat ke film didominasi jaringan-jaringan bioskop komersil, dengan sedikit sekali akses lewat festival dan inisiatif pemutaran gerilya. Alhasil, tidak banyak rupa ragam sinema yang tersalurkan ke masyarakat kita—hanya film-film tertentu yang bisa tayang di bioskop komersil.
Mengingat masyarakat Indonesia teramat majemuk dalam segi budaya, sosial, ekonomi, kepercayaan, hingga selera politik, perkara keragaman sinema ini menjadi kian mendesak untuk dibahas dan diperjuangkan. Berdasarkan bacaan ini, Yayasan Cipta Citra Indonesia melalui program KOLEKTIF berkolaborasi dengan Documentary Dream Center dan Independent Cinema Guild Japan dalam mengadakan Project to Incubate Audiences for Diverse Cinema (PIDC). Kolaborasi dengan Jepang dilakukan karena adanya isu-isu serupa yang Jepang alami terkait pengupayaan keragaman sinema bagi masyarakatnya.

Proyek ini bersifat lintas negara: perwakilan Indonesia memutar keliling sejumlah film nasional di Jepang, kemudian perwakilan Jepang melakukan hal serupa di Indonesia. Di antara pemutaran-pemutaran itu dilakukan sejumlah forum diskusi dengan pembuat film, pegiat komunitas, dan penonton. Dua tema kunci yang dibahas: keragaman sinema dan pengalaman menonton.Program di Jepang telah berlangsung pada 19-24 November di Kobe, Osaka, Nagoya, dan Tokyo. Perfilman Indonesia diwakili oleh Meiske Taurisia (produser film), Adrian Jonathan Pasaribu (kritikus film), serta Sari Mochtan (produser pelaksana).
Film-film Indonesia yang diputar: Babi Buta yang Ingin Terbang (Edwin, 2008); Lovely Man (Teddy Soeriaatmadja, 2011); What They Don’t Talk About When They Talk About Love (Mouly Surya, 2013); Mata Tertutup (Garin Nugroho, 2011); serta kompilasi film pendek Edwin (2002-2008). Rangkaian kegiatan PIDC selama di Jepang dapat dilihat di situs Independent Cinema Guild Japan. Rangkaian kegiatan PIDC untuk Indonesia akan berlangsung dengan tajuk “Aneka Ria Sinema”.

Aneka Ria Sinema akan memutar film dan mengadakan forum diskusi selama lima hari: 6-8 Desember 2014 di Yogyakarta, 9-10 Desember 2014 di Jakarta. Perwakilan Jepang yang akan hadir di Indonesia adalah Fujioka Asako (pegiat Documentary Dream Center), Tomioka Kunihiko (produser film dan pengurus bioskop Planet Studyo +1), Sakai Takehiro (pengurusNagoya Cinematheque), dan Fukada Koji (sutradara film dan pegiat Independent Cinema Guild). Nama yang terakhir akan memutar salah satu film panjangnya, Hospitalite (2011), dalam rangkaian kegiatan Aneka Ria Sinema. Film-film lainnya yang akan diputar: Horses of Fukushima (Yojyu Matsubayashi, 2013); GFP Bunny (Yutaka Tsuchiya, 2012); Tokyo Story (Yasujiro Ozu, 1953); dan Senyap (Joshua Oppenheimer, 2014).
Diskusi-diskusi selama Aneka Ria Sinema akan diramaikan oleh pegiat film internasional maupun nasional. Akan ada Chalida Uabumrungjit, pegiat Salaya Docs dan Thai Film Archive. Ada juga Ismail Basbeth, sutradara film dan pengurus Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Dalam sejumlah diskusi akan terlibat juga komunitas dan kineklub dari Jakarta dan Yogyakarta. Seluruh kegiatan dalam rangkaian Aneka Ria Sinema terbuka untuk umum. Informasi selengkapnya perihal acara ini dapat dilihat di situs resmi Yayasan Kolektif (http://kolektif.id)

poster_ANEKA RIA SINEMA 2014


Related Blogs

    Share