Jemeluk-1

Minggu, 8 Oktober 2017 merupakan hari pertama dimulainya serangkaian acara 3rd Minikino Film Week (3rdMFW) tahun 2017. Dengan semangat pagi, mengenakan kaos kebangsaan crew 3rdMFW lengkap dengan name tag tanda pengenal volunteer, saya meluncur ke Gedung Merdeka yang merupakan Festival Lounge.

Hari itu saya akan bertugas mengantar undangan dan semeton 3rdMFW yang ingin ikut menonton acara Pop Up Cinema ( Layar Tancap)  di Banjar Jemeluk, Amed-Karangasem, sesuai dengan jadwal Bravo (Shuttle Bus) yang  berangkat pukul 11.00 WITA. Saya pergi  bersama volunter lain menggunakan Bravo menuju lokasi Pop Up Cinema, sedangkan koordinator Pop Up Cinema,  Made Birus dan tim 3rdMFW yang lain menggunakan dua mobil yang mengangkut peralatan. Selama perjalanan sambil ngobrol santai, sampailah pembicaraan kami pada topik hits sekarang ini di Bali. Apa lagi kalau bukan mengenai status awas Gunung Agung? Terutama karena rute kami menuju ke daerah pengungsian yang merupakan area di kaki Gunung Agung. Dalam perjalananpun kami sempat melewati beberapa pos pengungsian dan berpapasan dengan beberapa mobil patroli yang siap mengamankan keadaan. Saya sempat terpikir suasana pemutaran nanti akan sepi karena mungkin banyak warga yang mengungsi.

Sesampainya di Banjar Jemeluk, ternyata Made Birus dan rombongan mobil sudah sampai duluan. Sambil istirahat setelah perjalanan selama kurang lebih 3 jam kami duduk-duduk sambil menikmati pemandangan sekitar, bersama kami yang sedang beristirahat di banjar juga ada orang-orang yang sedang istirahat saat tour dive mereka. Banjar lokasi pemutaran film berada di tepi pantai Amed yang memang merupakan tempat tujuan snorkeling dan diving. Menjelang sore kami pun bersiap merakit peralatan untuk Pop Up cinema (Layar Tancap)

Jadwal layar tancap pukul 19.00 WITA tapi sudah dari sore warga menunggui kami bersiap, respon antusias dari warga Amed ternyata sangat mengejutkan Lebih serunya lagi, warga membantu mengarahkan kami memilih di mana sebaiknya screen diarahkan. Akhirnya setelah prosesi putar kanan-putar kiri screen ditempatkan di sebelah utara bangunan banjar mengarah ke laut (utara) supaya warga yang datang bisa mendapatkan tempat yang luas dan leluasa duduk diantara jukung-jukung yang sedang diparkir di pantai sambil ditemani semilirnya angin pantai, Nggak ketinggalan dong bintang-bintang dan  milkyway menjadi atap kami di langit. Wiih.. asik banget kan.

Pemutaran film pun dimulai,  program film pertama yang diputar malam itu berjudul “Seven and Up” dilanjutkan dengan program film pendek “Indonesia Raja 2017 Sumbawa”.  Warga desa semakin ramai datang berbondong-bondong ke Banjar Amed. Ada yang datang lengkap, Bapak, dan Ibu dengan anak-anaknya.  Ada pula yang datang beramai-ramai dengan teman-temanya. Pikiran acara screening akan sepi selama perjalanan tadi sirna sudah.

Penulis: Rafika Sulistiya

Fotografer: Made Birus

Related Blogs

    Share